Halaman

Rabu, 09 Desember 2015

Inventarisasi BMN: PLTS dan PLTMH di Sumatera Utara

Plang PLTS Terpusat 15 kWp di Desa Hutatua, Sumatera Utara.
Kali ini gw mau cerita ketika gw ditugaskan untuk Inventarisasi BMN di Sumatra Utara. Ketika itu gw bersama tim melakukan inventarisasi di 4 Kabupaten di Sumatera Utara, yaitu Tapanuli Utara, Samosir, Simalungun dan Deli Serdang. BMN yang di Inventarisasi berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), dan sumur bor air bersih. BMN yang dari satker gw ya PLTS di Desa Hutatua, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara, dan PLTMH di Desa Hasinggaan, Kecamatan Sianjur MulaMula, Kabupaten Samosir.

Oke, pertama cerita soal PLTS di Desa Hutatua. Lokasinya cukup terpencil, ditengah-tengah gunung sepertinya. Akses ke lokasi sangat sulit. Dari Tarutung, Ibukota Kabupaten Tapanuli Utara, menuju Kecamatan Parmonangan kira-kira membutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam menggunakan mobil. Kemudian akses menuju Desa Hutatua hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Kami menyewa dua "Ojek" untuk menuju desa Hutatua. Kira-kira perjalanan menuju desa Hutatua dengan motor membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Nah, jalur menuju Desa Hutatua ini sangat ekstrim. Jalanan berpasir, dengan jurang dan tebing di sisi kiri dan kanan. Beberapa kali kami harus turun dari motor dan mendorong motor karena ga kuat nanjak atau tersangkut di jalan yang agak berlumpur. Kondisi cuaca hari itu memang hujan, sehingga jalan menjadi sangat licin dan berlumpur di beberapa titik.

Akses jalan menuju Desa Hutatua


Sampai di desa, kami diantar menuju rumah salah satu pengelola PLTS yang juga mantan Kepala Desa. Warga desa cukup ramah dalam membantu kami menemui Pengelola dan mengantarkan ke lokasi PLTS. Kondisi PLTS sendiri masih cukup baik, cukup terawat. Namun, karena cuaca beberapa bulan terakhir tidak terlalu terang, maka PLTS tersebut tak mampu menerangi desa 24 jam.

PV Array dan Baterai dari sistem PLTS

Bersama pengelola dan warga desa

Selesai pengecekan, kami langsung kembali lagi ke kecamatan, tempat kami memarkir mobil. Kembali menyusuri jalan licin dan berlumpur, dengan ketegangan yang sama seperti saat berangkat. Perjalanan yang cukup ektrim untuk pertama kalinya. Perjalanan yang tak akan gw lupakan, dan besar kemungkinan gw akan melakukan perjalanan ekstrim serupa di daerah pelosok lain di Indonesia ini. Terbayang bagaimana warga desa melalui jalur tersebut untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan menjual hasil-hasil desa.

PLTMH Desa Hasinggan
Selesai dari Tapanuli Utara, kami kemudian ke Samosir untuk melakukan cek fisik ke PLTMH di Desa Hasinggaan, Kab. Samosir. Untuk lokasi ini tidak se-ekstrim seperti lokasi di Tapanuli Utara. Cukup mengitari Danau Toba, bisa langsung sampai di desa tujuan. Dari Samosir, kami cukup naik kapal sekitar 2 jam dan langsung sampai di lokasi. Kondisi PLTMH tersebut masih cukup baik, dan masih dapat mensuplai listrik untuk warga Desa Hasinggaan.


 

Akses menuju Desa Hasinggaan, menyusuri Danau Toba


Penstock, Rumah Turbin, Turbin, dan Saluran Pembawa dari PLTMH Hasinggaan.


Listrik memang menjadi salah satu kebutuhan utama bagi manusia di zaman sekarang. Dua desa ini merupakan contoh desa yang cukup remote di Indonesia. Ketika kami menyempatkan diri untuk bercakap dengan warga, tampak warga sangat senang dengan mengalirnya listrik ke rumah-rumah mereka. Bisa dibilang, produktivitas mereka jadi meningkat. Dua desa ini juga bisa dijadikan contoh dalam pengelolaan pembangkit. Hingga kunjungan kemarin, pembangkit masih berfungsi dan cukup terawat. Semoga semakin banyak desa-desa remote lainnya di seluruh Indonesia yang bisa merasakan listrik di rumah-rumah mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar